Ir.
Soekarno pernah berkata, berikan aku lima maka akan kugoncangkan dunia ini.
Kondisi bangsa dapat dilihat dari kondisi pemuda. Pemuda sebagai pemimpin
bangsa selanjutnya. Maka dari itu pemuda yang akan menentukan nasib bangsa
selanjutnya. Bangsa yang baik adalah bangsa yang memiliki pemuda yang baik.
Kondisi bangsa dapat dilihat dari kondisi pemuda. Pemuda sebagai penentu nasib
bangsa selanjutnya, mau dibawa kemana bangsa ini selanjutnya tergantung
ditangan pemuda. Bukan artinya pemuda yang harus jadi pemimpin, namun pemuda
saat ini akan menjadi pemimpin dimasa yang akan datang. Artinya bahwa kondisi
pemuda pemuda saat inilah sebagai cerminan nasib bangsa kita yang akan datang.
Bagaimana jadinya jika pemuda saat ini selalu berbuat yang tidak sesuai dengan
norma hukum maupun aturan-aturan yang ada sekitarnya. Bagaimanakah jika bangsa
kita kelak dipimpin oleh para pecandu narkoba, penjudi, dan para-para pencuri.
Makin banyak koruptor dinegeri ini, jika yang akan terjadi demikian. Itu semua disebabkan
kondisi moral pemuda saat ini yang sangat memprihatinkan. Pemuda lebih menyukai
hiburan di dunia malam, layaknya gaya barat. Mereka tidak lagi mencintai timur
yang notabenenya merupakan budaya kita. maka dari bangsa yang besar sanagt
membutuhkan pemuda yang memiliki kepribadian yang baik agar dapat menjadikan
bangsa menjadi lebih maju. Alangkah indah jika negara kita memiliki para pemuda
yang peduli akan nasib bangsa tanpa mementingkan golongan tertentu.
Thursday, 11 October 2012
Tibaan dan Pengajian Sebagai Ajang Meningkatkan Ketaqwaan
Rabu 18 April 2012 mabna Al-Faraby
mengadakan tibaan di aula lantai 1 mabna al-faraby. Tibaan ini diikuti oleh
sekitar kurang lebih 20 peserta yang terdiri dari murabbi, musyrif, maupun
mahasantri baru. Kegitan ini telah rutin dilakukan setiap minggunya pada hari
rabu pukul 20.00 sampai dengan selesai. Selain diikuti oleh keluarga besar
Al-Faraby, kegiatan ini juga diikuti oleh musyrif-musyrif yang berasal dari
maba Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, serta Ibnu Kholdun. Salah satu musyrif yang enggan
disebutkan namanya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan rutinan
yang penyelenggaranya merupakan musyrif Al-Faraby dan pesertanya adalah
musyrif-musyrif se Ma’had Sunan Ampel Ali, dalam acara ini juga menyediakan
makkanan yang berasal dari dana suka rela penyelenggara yang digilir per kamar
musyrif Al-Faraby. Harapan kami kegiatan ini nantinya dapat menjalain
silaturahmi antara keluarga besar MSAA, khususnya mabna putra, harapan beliau(red).
Ilmu atau Gelar ??
Dewasa
ini, negara Indonesia sedang dilanda oleh berbagai krisis yang dirasakan oleh
seluruh lapisan masyarakat. Salah satunya yaitu krisis ilmuan atau yang sering
kita sebut sebagai krisis Sumber Daya Manusia ( SDM ). Sehingga bangsa kita
selalu “tertinggal” dalam segala hal. Para ilmuan akademik di negara kita
kurang memiliki kontribusi terhadap bangsa ini. Bagaimana tidak, para ilmuan
hanya bisa berteori tapi sangat langka yang bisa melakukan aksi (
mengaplikasikan ilmu yang dimiliki ). Yang lbih menyedihkan krisis yang dialami
oleh bangsa ini adalah krisis kepercayaan. Untuk saat ini sulit kita menemukan
orang-orang yang dapat dipercaya. Kebohongan telah terjadi dimana-mana. Semakin
langka kejujuran yang menyebabkan sulit berkembangnya bangsa ini melalui
potensi-potensi yang dimiliki. Di setiap sudut selalu ada celah untuk melakukan
kebohongan. Kebohongan inilah yang teus menjalar ke berbagai lapisa masyarakat
tanpa memandang profesi ataupun jabatan. Virus kebohongan terus menggerogoti
bangsa kita. Sehingga kepercayaan sulit untuk diberikan dan orang yang dapat
dipercaya sulit untuk kita temukan. Kejujuran sudah menjadi suatu hal yang
langka, melebihi langkanya BBM. Bahkan kejujuran yang seharusnya kita harapkan
dari para pelaku akademik, calon-calon ilmua yang seyogyanya bisa dijadikan
contoh dan panutan bagi masyarakat semakin sulit untuk ditemukan. Mereka yang
seharusnya menjadi pendidik bangsa yang memiliki integritas. Disetiap jenjang
pendidikan telah terjadi kebohongan. Bahkan pada awal untuk meraih sarjana
dilakukan dengan kebohongan. Gelar yang didapatkan merupakan plagiasi dari
karya orang sebelumnya yang meraih gelar yang serupa. Lebih banyak jumlah
lulusan di perguruan tinggi di Indonesia dari pada jumlah hasil karya tulis
sebagai syarat untuk mereka mereka meraih gelar sarjana tersebut. Sehingga
untuk meraih gelar sarjana juga dilakukan melalui ketidakjujuran. Hanya
segelintir mahasiswa ( S1, S2, bahkan S3 ) yang meraih gelar dengan murni
kejujuran. Kejujuran semakin langka untuk kita temui. Banyak dari mahasiswa
disaat mereka mendapat tugas kuliah yang bisa mengcopy hasil karya orang lain.
Maka tidak heran jika untuk meraih gelar sarjana mereka hanya bisa mengcopy skripsi
yang telah ada sebelumnya. Dan perbuatan seperti itu terus berlanjut hingga
thesis dan disertasi yang merupakan syarat untuk meraih gelar tertinggi dalam
akademik yaitu doktor. Kebobrokan dunia pendidikan berlmula dari ketidak
jujuran tersebut. Bisa dibayangkan jika calon-calon doktor hanya bisa demikian,
bagaimana selanjutnya nasib dunia pendidikan kita? itulah sebagian besar
realita dunia pendidikan kita saat ini. Cara awal untuk sebuah negara bisa
bangkit yaitu melalui dunia pendidikan. Seperti yang telah dilakukan oleh
Jepang ketika mereka hancur oleh bom atom yang diledakkan di Hirosima dan
Nagasaki. Seluruh aspek jepang lumpuh dan penduduk Jepang ibarat seekor burng
yang kehilangan sayapnya. Namun yang dilakukan pertama kali oleh Jepang saat itu
ialah mencari guru yang tersisa, dan memajukan dunia pendidikan. Sehingga yang
terjadi sat ini Jepang menjadi negara maju dalam bidang teknologi dan ekonomi.
Jepang menjadi salah satu negara maju didunia saat ini. Itulah yang seharusnya
kita lakukan, memajukan dunia pendidikan melalui kejujuran. Awal kemajuan
bangsa bermula dari pendidikan yang nantinya menjalar keberbagai aspek yang ada
disebuah negara. Sehingga bermuara kepada kemajuan bangsa yang seungguhnya.
Ironis memang, ketika ketidakjujuran
yang selalu timbul dalam dunia pendidikan kita. Tidak sedikit dari para
pendidik berkata “ yang penting hasilnya baik, terserah bagaimana prosesnya “.
Dari kutipan tersebut, secara disengaja ataupun tidak, pendidik menganjurkan
kepada para pelajar untuk berbohong dan melakukan ketidak jujuran. Bagaimana
tidak, dari kutipan tersebut berarti pelajar diperbolehkan untuk mencontoh dan
mencopy hasil karya orang lain karena yang dibutuhkan hanyalah hasil, terserah
hasilnya dari mana yang penting hasilnya itu baik. Tidak ada lagi kepercayaan
diri dalam masyarakat kita, banyak dari kita yang tidak percaya diri akan
kemampuan yang kita miliki. Kita merasa minder terhadap orang lain, dan
menganggap orang lain itu lebih hebat dari kita. Padahal itu semua belum tentu,
sesungguhnya kita memiliki kemampuan yang sangat luar biasa apabila kita mampu
untuk mengasahnya. Namun, karena sudah terbiasa untuk mengcopy, sehingga kita
sering menganggap bahwa karya orang lainlah yang paling benar dan kita tidak
memiliki percaya diri untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang
kita miliki. Apakah ini yang diharapkan?
Coba kita berpikir untuk merubah itu
semua. Boleh kita negara jajahan, tapi janganlah bermental seperti jajahan,
janganlah mental kita yang dijajah karena ketidak jujuran yang terus
menggerogoti bangsa kita yang menyebabkan kita lebih bangga dengan orang lain
ketimbang kepada diri sendiri. Kita tidak memiliki kepercayaan untuk berani
berbuat. Yakinlah bahwa kita bisa, dan kebisaan itu harus diiringi dengan
keberanian. Sehingga kita akan lebih percaya diri untuk berkarya, tanpa harus
selalu tidak jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Untuk merubah itu semua, pola pikir
bangsa kita yang seharusnya diubah. Yang lebih utama tentunya para pelaku
dibidang akademik yang harus menyadari betapa pentingnya sebuah ilmu, betapa
bermanfaatnya ilmu pengetahuan. Bukan hanya sebuah gelar yang menjadi sebuah
kebanggaan. Banyak profesor, doktor dinegara kita. Tapi apakah mereka memiliki
ilmu sesuai dengan gelarnya? Marilah kita menyadari bahwa gelar itu merupakan
tanggung jawab terhadap orang lain akan ilmu yaang kita miliki. Apabila kita
memiliki ilmu yang tinggi yakinlah bahwa gelar akan mengiringi. Tapi jika kita
hanya mengejar sebuah gelar tanpa memikirkan ilmu maka yang terjadi kita akan
mendapatkan gelar tanpa arti. Malulah, sebagai sarjana dan para calon-calon
sarjana jika memiliki gelar yang tinggi namun tidak memiliki arti. Bangsa kita
tidak lagi membutuhkan teori, tapi yang diharapkan adalah aplikasi. Bangsa kita
akan maju jika para pelaku akademik, selain memiliki gelar yang tinggi juga
memiliki ilmu yang memilik arti sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Marilah
kita bersama-sama bangkit mendidik anak bangsa selanjutnya yang memiliki
kepribadian yang jujur dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga
bangsa kita akan menjadi bangsa yang terdidik, dan juga mendidik. Dengan
kepercayaan diri yang tinggi maka ketidak jujuran yang dilakukan selama ini
secara lambat laun akan hilang. Karena kita yakin akan kemampuan yang kita
miliki. Sehingga nantinya bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju dan
memiliki mental yang kuat. Semoga pendidikan di negara kita ini menjadi
pendidikan yang jujur yang menghasilkan lulusan-lulusan yag jujur dan memahami
betapa pentingnya ilmu pengetahuan untuk dirinya dan orang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)