Kampus, tempat yang selama ini
orang menganggap sebagai “pabrik” dari ilmu pengetahuan. Para ahli semuanya ada
dikampus. Itulah juga yang membuat diri ini seakan tertarik mengikuti berbagai
dinamika kampus yang ada. Ada salah satu elemen penting yang terdapat dikampus,
yaitu mahasiswa. Mahasiswa yang bergelar “maha” tentu memiliki kelebihan khusus
dibanding mereka yang tidak bergelar maha. Memiliki kemampuan dan pemikiran
serta tindakan yang lebih baik dari mereka yang belum bergelar “maha”. Tentu
sebutan mahasiswa memiliki makna yang sangat baik.
Thursday, 19 March 2015
Monday, 16 February 2015
Presiden Jokowi Semakin Bingung, Negeri Semakin Hancur
Beberapa waktu ini masyarakat disuguhkan oleh drama unik dinegeri
ini. Seakan saya teringat oleh film alangkah lucunya negeri ini. Ternyata
film itu seakan nyata saat ini. Sejak pengangkatan Menteri yang penuh dengan
dilema. Awal dari kebingungan Jokowi. Rencana awal ingin merampingkan kabinet
tapi ternyata jumlah kabinet semakin gemuk. Semakin banyak lembaga yang
setingkat Menteri.
Sebagai contoh Kepala Staf Kepresidenan yang dulunya tidak ada.
Menteri tidak bertambah, namun lembaga atau jabatan setingkat menteri semakin
bertambah. Hanya sedikit bermain bahasa saja. Setelah itu Jokowi juga dibingungkan
oleh Menteri dan pejabat yang tak boleh merangkap pengurus partai. Tapi nyatanya Nyonya Puan Maharani masih aktif dipartai. Bahkan,
Jaksa Agung yang seharusnya independenpun dijabat oleh politikus.
Tentu ini
menjadi kebingungan yang terus menerus. Seakan menguatkan dugaan bahwa jabatan
itu tidak bisa lepas dari partai. Istilah bagi-bagi kursi pun kembali terjadi
cuma diubah bahasa menjadi pemilihan pejabat yang profesional. Lucunya negeri ini, semakin lucu ketika baru-baru ini terjadi
pemilihan Kapolri yang juga tidak lepas dari partai. Kalau kemarin Jaksa dari
partai Nasdem, sekarang Kapolri didukung oleh PDIP. Ini kembali menguatkan
bahwa ada bagi kursi yang telah diatur oleh Partai Penguasa. Semoga hal ini
tidak terjadi pada penegak hukum lain seperti TNI dan KPK.
Belum usai permasalahan Kapolri yang saat ini semakin menimbulkan
konflik yang memanas. Membuat Presiden Jokowi semakin bingung. Ternyata sangat
sulit menjadi pemimpin. Banyak tekanan terjadi dimana-mana. Terkadang bukan
keinginan hati yang bermain, tapi lebih kepada mengikuti keinginan para mafia
yang mendukungnya. Berani macam-macam pada mafia maka akan diganggu proses
kepemimpinannya. Inilah hal yang membuat masayarat ada yag heran, menangis,
bahkan tertawa.
Setelah sebelumnya Calon Kapolri ditetapkan sebagai tersangka
oleh KPK. Polisi ingin menunjukkan taringnya melalui penetapan wakil ketua KPK
menjadi tersangka pula. Kegaduhan antara kedua penegak hukum ini juga
menimbulkan kegaduhan dikalangan bawah. Akar rumput seakan bergoyang. Semakin
membingungkan buat Jokowi atau Jokowi yang membingungkan.
Masyarakat menuntut pencalonan Kapolri dibatalkan sementara elite
partai yang juga mengatasnamakan wakil rakyat menginginkan Kapolri langsung
dilantik. Dilema Presiden Jokowi semakin lengkap. Calon Kapolri pun tidak mau
mengundurkan diri sebagaimana pejabat-pejabat sebelumnya yang mengundurkan diri
setelah ditetapkan menjadi tersangka. Bahkan, calon Kapolri itu pun menggunakan kekuasaan dan keleluasaan
serta keungannya dengan mengajukan pra peradilan untuk menuntut status
tersangkanya dicabut. Dan anehnya lagi pengadilan mengabulkan permohonan calon
Kapolri tersebut. Pertama dalam sejarah status tersangka yang sudah ditetapkan
lembaga hukum dicabut oleh pengadilan dan dinyatakan tidak sah.
Padahal semua lembaga penegak hukum tentu memiliki dasar dalam
penetapan tersangka itu. Jokowi semakin bingung atau Jokowi yang membingungkan.
Presiden tidak bisa mengontrol lembaga yang ada di bawahnya sehingga menimbulkan
kegaduhan di dalamnya. Lembaga penegak hukum saat ini saling menunjukkan
taringnya seakan merekalah yang paling benar. Berbagai pasal dibantah dengan
pasal lainnya.
Sehingga sebagai masyarakat awam berpikir bahwa apa mungkin setiap
lembaga penegak hukum punya undang-undang masing-masing. Beda versi padahal
kasusnya sama. Inilah yang semakin menimbulkan kebingungan itu. Lembaga Hukum
saling menyudutkan, saling serang dan saling angkuh. Ini akan membuat negeri
ini semakin kacau. Jokowi semakin bingung, negeri semakin hancur.
Kami mengharapkan kekuasaan dan kedaulatan Jokowi sebagai presiden
perlu ditunjukkan. Fungsi pemimpin adalah mengontrol dan mengatur bukan hanya
memantau dan memberikan komentar. Semoga kebingungan ini tidak semakin larut
dan semoga negeri ini tidak semakin hancur. Karena kekuatan Jokowi sebagai
presiden sangat dibutuhkan. Harapannya, semoga tindakan dan keputusan Presiden
segera diwujudkan, demi kepentingan rakyat dan kestabilan kondisi negeri ini
agar tidak semakin hancur. Wallahu'alam..
Wallahu'alam...
Monday, 13 October 2014
10 Tahun SBY Memimpin Negeri, 30 Tahun Mendatang Giliran DCP Mengabdi*
Sebagai seorang pelajar waktu
itu, sekitar 12 Tahun yang lalu dikala daerah saya mengalami konflik yang luar
biasa, saya dikenalkan oleh media dengan sosok yang membuat saya kagum dan
ingin mengikuti jejaknya. Sosok yang selama 10 tahun memimpin negeri dan
berhasil membuat daerah saya damai dan aman. Saya pemuda dari Aceh, yang mengagumi
sosok SBY. Ketika beliau menjabat Menko Polhukkam saya mulai mengaguminya,
beliau juga pernah datang ke Kota Langsa, Aceh yang merupakan kota kelahiran
saya.
Sejak itu pula saya mencari tau
tentang beliau yang ternyata merupakan sosok yang patut untuk saya kagumi.
Sosok yang berwibawa, santai dalam bersikap, santun dalam bertindak, dan tenang
dalam berekspresi. Secara psikologis ketika kita melihat beliau tercermin jiwa
kepemimpinannya yang tenag, damai, dan kalem. Hingga pada tahun 2004
awal beliau menjabat secara spontan saya mengatakan 30 tahun yang akan datang
giliran DCP yang akan memimpin negeri ini. DCP sebenarnya adalah singkatan dari
nama saya Dwi Chandra Pranata yang terinspirasi dari pak SBY.
Banyak pro dan kontra terkait
kepemimpinan beliau selama 10 tahun, namun pada hakikatnya semua pemimpin ngeri
ini memiliki niat baik untuk membangun bangsa. Dan saya kira pak SBY pemimpin
yang sangat berhasil dalam memajukan bangsa ini kearah yang lebih baik. Saya
mengikuti perkembangan dunia internasional, bagaimana beliau sangat dihormati
oleh pemimpin negara lain, dihormati bukan karena otoriternya tapi karena
kecerdasan dan keberhasilannya yang menjadikan pak SBY dicintai tidak hanya
oleh rakyatnya tapi juga pemimpin dunia.
Beliau menorehkan sejarah sebagai Presiden yang dipilih secara
langsung oleh rakyat, dan terpilih selama dua periode dengan satu putaran. Ini menunjukkan
bahwa mayoritas rakyat mencintai dan menikmati kepemimpinan beliau. Beliaulah
pemimpin yang sesungguhnya, yang mampu mendamaikan dan menjaga kedaulatan
bangsa ini selama kepemimpinannya. Gejolak politik bisa diredam dengan lobi
politik yang beliau lakukan demi menjaga kondisi keamanan nasional. Ini membuat
dunia kagum dan mengakui beliau sebagai pemimpin berhasil. Sosoknya yang gagah,
akan disegani lawan, tutur katanya yang santun akan membuatnya dicintai oleh
kawan. Itulah yang selama ini saya lihat dari gaya kepemimpinan yang beliau
lakukan.
Terlepas dari banyak politik yang
baru-baru ini memojokkan beilau, tapi kita sepatutnya bangga atas capaian bangsa
ini selama kepemimpinan SBY, tidak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah Presiden
yang sangat berhasil memimpin negeri ini selama 10 tahun. Itulah SBY, bapak
yang saya kagumi dan bercita-cita untuk bertemu dengan Bapak walaupun tidak
mengetahui kapan akan bertemu, walaupun sudah tidak jadi Presiden saya tetap
memiliki mimpi untuk bertemu dengan sosok SBY yang selama ini hanya bisa saya
lihat melalui TV, dan saya akan katakan ke beliau bahwa 30 tahun mendatang akan
ada sosok DCP menjadi penerus SBY memimpin negeri ini.
Beliau dihormati bukan
karena jabatan namun karena sosoknya yang memang patut dihormati sehingga
setelah tidak menjadi presiden jabatan dengan sendirinya datang pada beliau yang
saat ini menjadi ketua GGGI. Itulah kekaguman seorang pemuda pelosok negeri
yang sedang menuntut ilmu kota Malang terhadap pemimpin negeri yang telah
berhasil membawa bangsa ini menjadi lebih baik. Salam hormat saya pak SBY !!
*Diikutkan dalam seleksi opini 10 Tahun Pemerintahan Presiden SBY #KopdarPamitan
Oleh : Dwi Chandra Pranata ( Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, yang berasal dari Aceh) email : dwichandra71@gmail.com, Nomer Handphone : 085276511766
Oleh : Dwi Chandra Pranata ( Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, yang berasal dari Aceh) email : dwichandra71@gmail.com, Nomer Handphone : 085276511766
Subscribe to:
Posts (Atom)