Kampus, tempat yang selama ini
orang menganggap sebagai “pabrik” dari ilmu pengetahuan. Para ahli semuanya ada
dikampus. Itulah juga yang membuat diri ini seakan tertarik mengikuti berbagai
dinamika kampus yang ada. Ada salah satu elemen penting yang terdapat dikampus,
yaitu mahasiswa. Mahasiswa yang bergelar “maha” tentu memiliki kelebihan khusus
dibanding mereka yang tidak bergelar maha. Memiliki kemampuan dan pemikiran
serta tindakan yang lebih baik dari mereka yang belum bergelar “maha”. Tentu
sebutan mahasiswa memiliki makna yang sangat baik.
Berbagai dinamika yang terjadi
dan dirasakan langsung oleh mahasiswa dikampus membuat saya tertarik untuk
mencoba mengulas makna dari mahasiswa yang sesungguhnya. Dikampus, ada golongan
mahasiswa, yang organisatoris dan mahasiswa yang tidak peduli apapun kecuali hanya
urusan akademiknya saja. Nah, semuanya sebenarnya memiliki keuntungan
masing-masing. Para aktivis menganggap mahasiswa yang hanya kuliah saja tidak
mampu berkembang menjadi lebih baik. Begitu juga para kutu buku, yang
menganggap kegiatan aktivis hanya menghabiskan waktu dan memperlambat
kelulusan. Sebagai mahasiswa, terutama mahasiswa baru terkadang bingung
mengikuti irama yang ada dikampus. Mereka dihadapkan dalam dinamika sosial yang
membuat mereka harus memilih mengikuti kemana mereka melangkah.
Saya tidak akan mengatakan bahwa
aktivis lebih baik atau kutu buku lebih baik. Karena memang semuanya memiliki
keuntungan masing-masing. Hal ini yang pernah saya rasakan selama ketika masih
mahasiswa baru. Hampir semua organisasi dan komunitas menawari juniornya untuk
memasuki organisasi mereka. Waktu itu, saya mencoba berpikir untuk realistis.
Satu sisi, saya sebagai perantau tentu dituntut untuk kuliah dengan baik, dan
pulang membawa ilmu yang diperoleh di kota perantauan, kota Malang. Terkadang
timbul kebingungan bagi mahasiswa baru untuk memilih organisasi yang ingin
mereka ikuti, atau bahkan tidak ikut organisasi sama sekali. Lantas, saya
melihat profil berbagai tokoh yang sukses saat ini. Ada yang dulunya mengikuti
organisasi, dan banyak juga tokoh sukses yang dulunya tidak mengenal
organisasi. Saat itulah saya berpikir bahwa, apapun pilihannya tetap sukses
adalah tujuannya. Semua bisa sukses melalui jalannya masing-masing.
Apakah itu aktivis atau kutu buku,
semuanya memiliki kemungkinan untuk memperoleh keberhasilan. Ibarat ada dua
pilihan air, yang satu kopi yang satu teh. Keduanya sama-sama air. Namun
memiliki rasa yang berbeda. Tergantung, si pemilih menyukai rasa yang mana.
Ketika saya menyukai kopi, maka pilihlah kopi dan hiraukan teh. Begitupun
sebaliknya. Sehingga penikmat kopi akan bahagia dengan kopinya dan penikmat teh
akan bahagia dengan tehnya. Celakanya, jika ada yang menginginkan keduanya, itu
yang terkadang membuat kacau karena sifat keserakahannya. Itulah sesungguhnya
yang membuat setiap orang sukses dan berhasil saat ini. Mereka bahagia dengan
pilihannya, dan bersyukur dengan pilihan itu.
Aktivis atau kutu buku? Ketika
kita memilih aktivis, maka akan banyak proses dinamika dan pengalaman yang kita
alami, dan ketika kita menjadi kutu buku akan banyak pengetahuan yang kita
peroleh dan mampu menjadi rujukan bagi teman-teman lain. Kedua pilihan yang
sama-sama baik, dan membuat si pemilih menjadi baik jika pemilih itu bahagia
dengan pilihannya. Untuk bahagia, maka sesuaikan pilihan itu dengan kemampuan
dan kapasitas yang dimilikinya. Semua pilihan itu baik jika kita mampu untuk
memaksimalkan pilihan itu. So, jangan takut untuk berbeda pilihan dan jangan
takut berada pada kebahagiaan yang orang lain menganggap tidak bahagia. Bahagia
adalah perspektif dari pemilik kebahagiaan itu sendiri, bukan dari mereka yang
memiliki kebahagiaan berbeda dengan kita. Bijaklah untuk memilih, dan pahamilah
apa yang diri ini butuhkan. Aktivis itu baik dan kutu buku belum tentu lebih
baik, karena mereka sama-sama baik. Wallahu’alam
No comments:
Post a Comment