Pages

Thursday, 19 March 2015

Mahasiswa Aktivis atau Kutu buku

Kampus, tempat yang selama ini orang menganggap sebagai “pabrik” dari ilmu pengetahuan. Para ahli semuanya ada dikampus. Itulah juga yang membuat diri ini seakan tertarik mengikuti berbagai dinamika kampus yang ada. Ada salah satu elemen penting yang terdapat dikampus, yaitu mahasiswa. Mahasiswa yang bergelar “maha” tentu memiliki kelebihan khusus dibanding mereka yang tidak bergelar maha. Memiliki kemampuan dan pemikiran serta tindakan yang lebih baik dari mereka yang belum bergelar “maha”. Tentu sebutan mahasiswa memiliki makna yang sangat baik.

Berbagai dinamika yang terjadi dan dirasakan langsung oleh mahasiswa dikampus membuat saya tertarik untuk mencoba mengulas makna dari mahasiswa yang sesungguhnya. Dikampus, ada golongan mahasiswa, yang organisatoris dan mahasiswa yang tidak peduli apapun kecuali hanya urusan akademiknya saja. Nah, semuanya sebenarnya memiliki keuntungan masing-masing. Para aktivis menganggap mahasiswa yang hanya kuliah saja tidak mampu berkembang menjadi lebih baik. Begitu juga para kutu buku, yang menganggap kegiatan aktivis hanya menghabiskan waktu dan memperlambat kelulusan. Sebagai mahasiswa, terutama mahasiswa baru terkadang bingung mengikuti irama yang ada dikampus. Mereka dihadapkan dalam dinamika sosial yang membuat mereka harus memilih mengikuti kemana mereka melangkah.

Saya tidak akan mengatakan bahwa aktivis lebih baik atau kutu buku lebih baik. Karena memang semuanya memiliki keuntungan masing-masing. Hal ini yang pernah saya rasakan selama ketika masih mahasiswa baru. Hampir semua organisasi dan komunitas menawari juniornya untuk memasuki organisasi mereka. Waktu itu, saya mencoba berpikir untuk realistis. Satu sisi, saya sebagai perantau tentu dituntut untuk kuliah dengan baik, dan pulang membawa ilmu yang diperoleh di kota perantauan, kota Malang. Terkadang timbul kebingungan bagi mahasiswa baru untuk memilih organisasi yang ingin mereka ikuti, atau bahkan tidak ikut organisasi sama sekali. Lantas, saya melihat profil berbagai tokoh yang sukses saat ini. Ada yang dulunya mengikuti organisasi, dan banyak juga tokoh sukses yang dulunya tidak mengenal organisasi. Saat itulah saya berpikir bahwa, apapun pilihannya tetap sukses adalah tujuannya. Semua bisa sukses melalui jalannya masing-masing.

Apakah itu aktivis atau kutu buku, semuanya memiliki kemungkinan untuk memperoleh keberhasilan. Ibarat ada dua pilihan air, yang satu kopi yang satu teh. Keduanya sama-sama air. Namun memiliki rasa yang berbeda. Tergantung, si pemilih menyukai rasa yang mana. Ketika saya menyukai kopi, maka pilihlah kopi dan hiraukan teh. Begitupun sebaliknya. Sehingga penikmat kopi akan bahagia dengan kopinya dan penikmat teh akan bahagia dengan tehnya. Celakanya, jika ada yang menginginkan keduanya, itu yang terkadang membuat kacau karena sifat keserakahannya. Itulah sesungguhnya yang membuat setiap orang sukses dan berhasil saat ini. Mereka bahagia dengan pilihannya, dan bersyukur dengan pilihan itu.


Aktivis atau kutu buku? Ketika kita memilih aktivis, maka akan banyak proses dinamika dan pengalaman yang kita alami, dan ketika kita menjadi kutu buku akan banyak pengetahuan yang kita peroleh dan mampu menjadi rujukan bagi teman-teman lain. Kedua pilihan yang sama-sama baik, dan membuat si pemilih menjadi baik jika pemilih itu bahagia dengan pilihannya. Untuk bahagia, maka sesuaikan pilihan itu dengan kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya. Semua pilihan itu baik jika kita mampu untuk memaksimalkan pilihan itu. So, jangan takut untuk berbeda pilihan dan jangan takut berada pada kebahagiaan yang orang lain menganggap tidak bahagia. Bahagia adalah perspektif dari pemilik kebahagiaan itu sendiri, bukan dari mereka yang memiliki kebahagiaan berbeda dengan kita. Bijaklah untuk memilih, dan pahamilah apa yang diri ini butuhkan. Aktivis itu baik dan kutu buku belum tentu lebih baik, karena mereka sama-sama baik. Wallahu’alam

No comments:

Post a Comment